Bersinergi dengan Densus 88, Eks-JI Pilih Tinggalkan Ekstremisme dan Peluk NKRI
Medan,Noktahsumutcom 30 Agustus 2025 — Sebuah momentum bersejarah berlangsung di Hotel Emerald Garden Medan pada Sabtu (30/8). Para mantan pimpinan dan anggota Jemaah Islamiyah (JI) resmi mendeklarasikan pembubaran organisasinya sekaligus meneguhkan ikrar kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Acara bertajuk “Transformasi Ideologi Jemaah Islamiyah: Jalan Menuju Wasathiyah, Membangun Kesadaran Baru Ideologi Sehat dan Moderat” ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting, mulai dari unsur pemerintah, aparat keamanan, lembaga keagamaan, hingga akademisi.
Turut hadir Kakanwil Kemenag Sumut H. Ahmad Qosbi, S.Ag., MM, Sekretaris MUI Sumut Prof. Dr. Asmuni, M.A., perwakilan Kapolda Sumut, Pangdam I/BB, Bais, Kabinda Sumut, Baznas Sumut, hingga Kaban Kesbangpol Kota Medan.
Sementara itu, narasumber yang hadir di antaranya Para Wijayanto, Nasir Abbas, Wiji Joko Santoso, Joko Priyono, Budi Tri Karyanto, Muh Choirul Anam, dan Askary Shinghotulhaq.
Kasatgaswil Densus 88 Antiteror Polri Sumut, Kombes Pol Dr. Didik Novi Rahmanto, S.I.K., M.H, menyebut kegiatan ini sebagai simbol rekonsiliasi dan persaudaraan.
“Acara ini bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi lebih kepada bagaimana kita bersama-sama membangun masa depan yang lebih baik dan harmonis. Perubahan selalu mungkin, bahkan kini kita menyaksikan saudara-saudara kita yang pernah berjalan di jalan berbeda, telah kembali, bertobat, dan bertekad kuat membangun bangsa,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak dalam menjaga Indonesia dari ancaman ideologi ekstrem, intoleransi, dan paham yang memecah belah. “Transformasi ideologi bukan sekadar konsep, tetapi sebuah proses panjang yang hanya bisa berhasil jika didukung aparat, pemerintah, ulama, akademisi, dan seluruh masyarakat,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, Ust. Para Wijayanto mewakili eks-JI membacakan Deklarasi Pembubaran Jemaah Islamiyah, yang memuat enam poin penting:
- Membubarkan Al-Jamaah Al-Islamiyah dan kembali ke pangkuan NKRI.
- Menjamin kurikulum dan materi ajar bebas dari paham ekstremisme, berlandaskan Ahlus Sunnah Wal Jamaah.
- Membentuk tim pengkajian kurikulum agar pesantren afiliasi JI sejalan dengan standar Islam moderat.
- Siap berkontribusi aktif mengisi kemerdekaan Indonesia.
- Siap mematuhi hukum yang berlaku di NKRI.
- Segala kesepakatan dibicarakan melalui negara bersama Densus 88 Anti Teror Polri.
Dalam tausiyahnya, Para Wijayanto mengutip Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 143) tentang pentingnya menjadi ummatan wasathan — umat pertengahan. “Jalan wasathiyah adalah menjaga aqidah, menegakkan ibadah, sekaligus menebar rahmat dan kedamaian. Inilah jalan Islam yang sesungguhnya, rahmat bagi seluruh alam,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa cinta tanah air adalah bagian dari fitrah manusia sekaligus ajaran Rasulullah SAW. “Tidak ada jalan yang lebih mulia bagi seorang muslim selain kembali ke jalan wasathiyah — jalan lurus penuh rahmat dan kasih sayang,” ucapnya penuh haru.
Acara ini ditutup dengan ajakan bersama untuk meneguhkan semangat kebangsaan dan memperkuat persaudaraan. Para mantan pimpinan JI yang kini kembali ke NKRI diharapkan menjadi teladan bahwa perubahan selalu mungkin, dan bahwa Indonesia adalah rumah besar yang harus dijaga bersama.